Kumpulan Artikel Kesehatan dan Kecantikan Terbaru 2017

Dermatoporosis, Bukan Sekedar Masalah Kosmetik

Tidak dapat dipungkiri perkembangan Ilmu Kedokteran Geriatri dalam 5 tahun terakhir bertambah pesat di Indonesia.

Tidak sedikit yang memandang miring tentang ilmu ini karena yang diurusi adalah pasien usia lanjut yang rata-rata sudah mengidap berbagai penyakit kronis yang hampir tidak dapat disembuhkan secara sempurna di samping itu berkomunikasi dengan pasien usia lanjut yang rata-rata kurang pendengarannya cukup memakan waktu saat dilakukan pemeriksaan disertai gangguan fungsi luhur sehingga lain yang ditanya lain pula yang dijawab, belum lagi pertanyaan yang berulang ulang diajukan dari pasien demensia dan post stroke.

Saat ini sebagian besar dari disiplin ilmu kedokteran juga mulai memiliki divisi geriatri, contohnya di bagian ilmu kesehatan jiwa sudah ada divisi psikogeriatri, di neurologi sudah ada neurogeriatri, dan di bagian ilmu penyakit kulit di RSCM telah berdiri divisi gerontodermatologi.

Sebagian dari praktisi klinik kita sebenarnya masih rancu tentang masalah geriatri. Pada prinsipnya ilmu geriatri tidak boleh dipecah-pecah menurut organ tubuh karena pelayanan dari geriatri adalah bersifat holistik komprehensif sehingga seorang dokter geriatri adalah ‘he/she who knows everything about aging process and the clinical implication’, jadi bukan spesialis kulit yang mendalami geriatri atau spesialis neurologi yang mendalami geriatri dan sebagainya. Bapak pendiri Ilmu Geriatri malahan menyatukan pelayanan yang ‘organ oriented’ menjadi suatu pelayanan yang lebih humanis dan menyeluruh dengan memasukkan aspek sosial lingkungan dalam pengelolaannya.

Dalam acara Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association (ASMIHA) sebulan yang lalu di Jakarta pada saat Memorial Lecture Prof (Em) Dr. Boedi Darmojo,SpPD, SPJP,KGer disampaikan bahwa dalam kurikulum calon spesialis jantung harus dimasukkan bahan kuliah geriatri karena proses ‘aging heart’ sangat berbeda tampilan klinisnya dibanding dengan mereka yang berusia muda.
Bila pada tulang kita kenal kerapuhan tulang yang disebut osteoporosis, maka di kulit seorang lanjut usia juga dikenal dengan istilah dermatoporosis. Dermatoporosis bukan hanya sekedar masalah kosmetik pada kulit lansia tetapi cakupan jauh lebih luas dan kompleks. Dermatoporosis mencakup masalah fungsional kulit dimana proses pertahanan/perlindungan kulit terhadap rangsangan dari luar seperti alergen, sinar ultraviolet, zat iritan dan sebagainya menjadi berkurang dan dapat menimbulkan implikasi yang serius seperti sepsis.

Kulit yang mengalami proses menua secara fisiologis disebut sebagai ‘aging skin’. Proses ini disertai/dengan berkurangnya bahkan hilangnya zat penyokong kelenturan kulit. Zat yang dimaksud adalah matriks ekstraselular dan komponen hialuronat. Akibat kekurangan zat penting ini maka kolagen dan serat elastin menjadi longgar ikatannya sehingga kulit kehilangan fungsi pertahanan mekanisnya sehingga kulit menjadi tipis, mudah lecet, mudah alergi, mudah timbul perdarahan di bawah kulit (lebam patologis), luka sulit menyembuh dan sebagainya. Pada hakekatnya fungsi pertahanan kulit ini jauh lebih penting dibanding dengan masalah kosmetik.

Dermatoporosis sudah dimulai di saat orang berusia 60 tahun dan manifestasi klinisnya menjadi lebih nyata bila usia seseorang telah mencapai 70 tahun. Manifestasi klinis dermatoporosis bisa berupa atropi kulit, senile purpura (perdarahan bawah kulit dengan atau trauma ringan), gangguan penyembuhan luka di kulit dan sebagainya.

Atropi Kulit
Merupakan masalah yang sering kita jumpai sehari-hari. Umumnya pasien tidak mengeluhkan atropi kulit tetapi lebih sering datang ke klinik dengan keluhan kulit jadi licin dan mudah gatal. Bila kulit pasien ini dibiopsi dan diperiksa di bawah mikroskop maka ketebalan dari epidermis dan dermis jauh lebih tipis (0,7-0,8 mm) dibanding normal yang berkisar 1,4-1,5 mm. Pada pemeriksaan histologis juga terlihat jaringan kolagen, serabut elastin dan musin juga berkurang.

Senile Purpura
Senile purpura (perdarahan bawah kulit) merupakan manifestasi klinis yang paling sering dijumpai di klinis. Pasien sering menanyakan ke dokter kenapa kulitnya sering ada bercak perdarahan dibawah kulit padahal tidak terkena trauma dan bahkan sering timbul begitu saja saat bangun dari tidur. Para klinis selalu berusaha memberikan obat untuk menghentikan perdarahan seperti Vitamin K atau asam traneksamat.

Manfaat pemberian obat ini tidak terbukti akan memperbaiki keadaan. Senile purpura cenderung timbul berulang-ulang dan selalu spontan. Senile purpura jauh lebih sering ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit dan perdarahan bawah kulit ini makin meluas bilamana pasien juga mengkonsumsi kortikosteroid dan aspirin.

Stellate Pseudoscar
Gambaran kulit ini jarang dikeluhkan oleh pasien karena pada lansia yang berkulit putih gambaran kulit ini memang agak samar-samar. Kondisi kulit ini dijumpai pada sekitar 20 - 40% lansia yang berusia di atas 70 tahun. Sering dijumpai pada daerah lengan dan punggung tangan. Gambaran klinisnya berupa bercak keputihan yang bentuknya bisa linear (seperti garis), stellata (bintang), dan bentuk seperti mata uang (plaque). Pada pasien yang kulitnya berwarna gelap maka pasien lebih sering mengeluhkan bercak putih ini menganggu penampilan kulit (aspek kosmetik lebih menonjol).

Dissecting Hematoma
Ini merupakan kasus yang berat dan sering membutuhkan perawatan di rumah sakit. Kondisi klinisnya berupa perdarahan hebat yang terjadi di ruang antara jaringan dermis dengan lapisan lemak dan otot. Akibat berkurangnya elastistas kulit yang menua maka trauma ringan akan mencetuskan perdarahan hebat dan perdarahan tersebut sulit berhenti karena kurangnya daya menekan fungsional dari jaringan kulit. Daerah yang paling sering terjadi hematoma kulit adalah daerah tungkai bawah.

Pada gambaran klinis terlihat tungkai bengkak, panas, dan berwarna kemerahan. Karena hilangnya daya menekan dari jaringan kulit maka volume perdarahan yang bertambah besar ini akan menekan suplai darah ke kulit yang di ujungnya sehingga terjadi pembusukan (nekrosis) dari kulit dan proses ini memudahkan terjadinya infeksi dan berlanjut dengan sepsis. Penanganan hematoma ini harus segera dan tidak jarang salah didiagnosa sebagai erisipelas ataupun selulitis sehingga pasien diberi antibiotika kemudian disuruh berobat jalan. Hematoma ini lebih sering timbul pada pasien yang mendapat obat kortikosteroid baik topikal maupun sistemik dan juga pada pasien yang mendapat antikoagulan seperti aspirin, klopidogrel.

Delayed Skin Healing
Pada usia lanjut sering kita perhatikan bahwa proses penyembuhan luka di kulit sangat lambat. Proses ini akan lebih lambat lagi bilamana pasien tersebut anemia, kurang protein, menderita diabetes, post stroke dan sebagainya. Tanpa penyakit penyerta sekalipun proses penyembuhan kulit berjalan lambat karena kemampuan proliferasi dari fibroblas, keratinosit berkurang. Disamping itu karena adanya proses infeksi, maka protein yang dihasilkan oleh sel darah untuk membunuh kuman seperti sitokin juga berperan menghambat proses penyembuhan kulit.

Sama halnya dengan osteoporosis, maka dermatoporosis juga dibagi menjadi primer dan sekunder. Dermatoporosis primer paling sering kita jumpai karena berkaitan dengan usia. Apakah faktor genetik juga berperan mempercepat proses dermatoporosis sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Dermatoporosis sekunder terjadi karena ada faktor luar dan faktor yang disengaja seperti penggunaan obat kortikosteroid topikal dan sistemik dalam jangka waktu lama. Kortikosteroid berperan dalam meregulasi berbagai gen yang mengatur pembentukan kolagen, elastin, MMP (Matrix Metalloproteinase).
Pembagian Stadium Klinis Dermatoporosis.

Clinical staging ini sebenarnya untuk awam kurang berfaedah diketahui karena manfaatnya lebih besar untuk klinis dalam rangka menyusun rencana pengobatan.
Pada garis besar dermatoporosis dibagi menjadi 4 stadium yaitu :
  1. Stadium 1: kulit terlihat sangat menipis, dijumpai senile purpura dan pseudoscar. Pada stadium ini jelas tidak ada luka terbuka.
  2. Stadium 2 : gambaran stadium 1 disertai dengan ada luka lecet (laserasi) di kulit.
  3. Stadium 3 : laserasi di kulit lebih luas dan jumlahnya bertambah dan dapat menjangkau seluruh permukaan anggota gerak.
  4. Stadium 4 : gambaran kulit yang kritis dimana telah ada hematoma kulit.
Terapi Dermatoporosis
Terapi tidak akan dielaborasi secara luas karena ini adalah makalah untuk awam. Alasan kedua adalah masyarakat kita cenderung mengobati diri sendiri dengan informasi medis yang sangat minim sehingga tidak jarang efek samping pengobatan sendiri (swamedikasi) tersebut akhirnya menjadi beban kerja bagi klinisi.
Secara umum terapi dermatoporosis adalah menghindari sinar ultra violet secara berlebihan tetapi bukan berarti tidak boleh kena sinar matahari. Sinar matahari penting untuk mencegah osteoporosis karena sinar ultraviolet akan mengaktifkan vitamin D yang ada di kulit. Pada kulit yang menua dapat diberikan pelembut kulit.
Pemberian retinoid dan HAF topikal (Hyaluronate Fragment intermediate) (HAFi 50-400 kDa) adalah berdasarkan rekomendasi klinisi yang berkompeten. Satu hal yang penting diperhatikan adalah sedapat mungkin menghindari pengunaan kortikosteroid jangka panjang.
artikel oleh : Dr.Hartono Taslim, M.Med
Tag : Refferensi
Back To Top