Kumpulan Artikel Kesehatan dan Kecantikan Terbaru 2017

Obat Antibiotika dan Pengaruhnya

Antibiotika didefinisikan sebagai suatu substansi yang dihasilkan dari berbagai jenis mikroorganisme seperti jamur dan bakteri yang dapat menghambat pertumbuhan dari mikroorganisme lain. Belakangan ini istilah antibiotika mencakup juga zat antimikroba sintetis seperti yang disebut dengan sulfonamide dan kuinolon. (Cunha BA.2002. Antibiotic essentials. Physycians press. Royal Oak Michigan 2002 ).

Dalam dunia kedokteran untuk pemberian antibiotika, maka perlu diperhatikan beberapa faktor dari penderita, antara lain:
  • Faktor derajat infeksi, misalnya pada infeksi ringan tidak perlu langsung diberikan antibiotika karena dengan penundaan pemberian antibiotika bisa mem-berikan kesempatan kepada tubuh untuk merangsang timbulnya meka-nisme kekebalan tubuh. Tapi pada infeksi berat atau infeksi yang telah berlangsung lama, pengobatan de-ngan antibiotika yang tepat boleh segera dimulai.
  • Faktor di mana tempat infeksi terjadi, misalnya apakah di tulang (organ yang kurang memiliki pembuluh darah), ataukah di jaringan susunan saraf pusat di mana antibiotika yang diberikan harus jenis yang sanggup menembus lapisan tersebut supaya obat dapat bekerja dengan efektif. Selain itu apakah adanya abses, jaringan mati, lendir yang banyak, benda asing dan lain lain yang bisa juga mengurangi efektivitas kerja antibiotika sehingga diperlukan untuk terlebih dahulu dilakukan tindakan seperti pembersihan luka atau insisi sebelum memberikan antibiotika.
  • Faktor usia, apakah bayi, anak-anak, orang dewasa atau usia lanjut perlu pertimbangan khusus dalam pemberian antibiotika
  • Faktor adanya penyakit komorbid misalnya adanya kelainan hati atau ginjal perlu sekali diperhatikan karena dapat menurunkan efektifitas obat dan memperberat efek keracunan obat. Selain itu kelainan genetik seperti kekurangan enzim G6PD bisa menimbulkan anemia hemolitik bila diberikan antibiotika tertentu.
  • Faktor status kekebalan tubuh, misalnya pada penderita dengan penurunan status kekebalan tubuh pemberian antibiotika akan berbeda dengan yang memiliki status kekebalan tubuh cukup baik walaupun dengan tingkat infeksi yang sama.
  • Faktor hamil atau menyusui, ada beberapa antibiotika yang sama sekali tidak boleh diberikan kepada orang hamil karena bisa menimbulkan efek-efek yang membahayakan seperti kecacatan pada janin yang di kandung, atau pada yang menyusui karena ada beberapa antibiotika yang bisa ditemukan dalam air susu ibu yang bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada bayi.
  • Faktor sosial dan ekonomi, artinya selain harga obat juga perlu diperhatikan lama dan interval pemberian obat, sehubungan dengan banyaknya obat yang dibutuhkan.

Untuk menentukan dosis harus didasarkan pada diagnosis penyakit, berat infeksi, efek dan kerja antibiotika, serta efek samping obat itu sendiri karena sangat berhubungan dengan keadaan pasien misalnya bila ada kelainan ginjal, bagaimana keadaan fungsi hati, usia, berat badan dan lain-lain. Antibiotika dapat diberi dalam dosis tunggal atau dosis terbagi (sesuai farmakodinamik dan farmakokinetiknya obat tersebut).

Untuk masa terapi antibiotika dilakukan secara individual yaitu dengan mempertimbangkan respons klinik pasien. Umumnya lama pemberian antibiotika 5-7 hari, bergantung pada berat ringan penyakitnya, dan dapat dihentikan 3-5 hari setelah klinis membaik. Tapi pada beberapa penyakit lain seperti tuberkulosis (TB) perlu diberikan antibiotik selama berbulan-bulan.

Kegagalan dalam pemberian terapi dengan antibiotik bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
• kuman yang sudah kebal/resisten terhadap antibiotik yang diberikan.
• dosis yang terlalu rendah.
• masa pengobatan terlalu singkat.
• adanya faktor mekanik seperti abses,benda asing, batu, banyaknya lendir.
• kesalahan dalam menetapkan penyebabnya.
• tidak semua bagian tubuh dapat ditembus dengan mudah oleh antibiotika.
• keadaan umum pasien yang buruk.
• jeleknya sistem kekebalan tubuh pasien.

Sumber : dr. Stephanie Pangau, MPH

Back To Top