Kumpulan Artikel Kesehatan dan Kecantikan Terbaru 2017

PENYAKIT POLIO YANG IRONIS

PENYAKIT polio sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Lukisan dinding di kuil-kuil Mesir kuno menggambarkan orang-orang sehat dengan kaki layu berjalan menggunakan tongkat.


Lambat laun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pemberantasan penyakit polio mulai galak dilakukan sejak tahun 1990an sebagai respon terhadap wabah dunia di tahun-tahun tersebut. Pada tahun 1954 vaksin polio buatan Salk, telah mulai digunakan. Satu dekade berjalan, vaksin yang diperkirakan memiliki efek lebih baik ditemukan oleh Albert Sabin, dan mulai digunakan sejak tahun 1964. Vaksin berupa tetes mulut inilah yang hingga hari ini masih digunakan di Indonesia dalam berperang sekuat tenaga membasmi polio. Kondisi yang ironis mengingat Amerika Serikat telah mampu melakukan eradikasi (pemusnahan) polio pada tahun 1979. Sangat memalukan dalam selisih waktu 30 tahun pun kita belum mampu mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat.


Poliomyelitis atau yang lebih dikenal sebagai polio, adalah penyakit menular yang disebabkan virus polio, dan menimbulkan gejala utama berupa kelumpuhan (paralisis).


Virus polio terdiri dari 3 strain yaitu:
  • strain 1 (brunhilde),
  • strain 2 (lanzig),
  • dan strain 3 (leon).
Strain 1 paling ganas, dan sering menyebabkan wabah. Sedangkan strain 2 adalah yang paling jinak.
Penyakit ini menular melalui kontak antar manusia. Kontak dapat melalui penularan dari feses orang terinfeksi yang mengkontaminasi makanan dan minuman, untuk kemudian masuk ke mulut calon penderita. Setelah seseorang terkena infeksi polio, virus akan keluar bersama feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus. Istilah medisnya transmisi fecal-oral. Kontak lain bisa juga langsung dari mulut ke mulut, namun hal ini sangat jarang terjadi.

Setelah masuk ke mulut, virus ini masuk ke saluran cerna dan menimbulkan infeksi di sana. Tidak berhenti sampai di sini, virus dapat menembus pembuluh darah usus, untuk memasuki aliran darah menuju ke sistem saraf pusat. Di sana virus menginvasi sel-sel saraf, menimbulkan kerusakan yang awalnya hanya berupa kelemahan otot dan jika parah dapat berlanjut menjadi kelumpuhan.

Namun ternyata pada 95 persen kasus, polio sebenarnya tidak menunjukkan gejala yang khas. Hal ini diebut polio asimptomatik (tanpa gejala). Sedangkan sisanya sebanyak 4-8 persen kasus, menunjukkan gejala yang jelas, disebut polio simptomatik. Gejala yang jelas ini muncul dalam 3 bentuk yang berbeda, yakni :


  • Bentuk yang ringan disebut juga abortive polio.
    Pada bentuk ini, polio tidak menunjukkan gejala kelumpuhan. Penyakit ini hanya menimbulkan gejala ringan berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri perut. Gejala ini jarang parah, dan bertahan tidak lebih dari tiga hari. Kumpulah gejala ini sangat mirip sakit flu dan disebut flu like syndrome. Walau demikian, virus tetap berjalan melewati saluran cerna, dan feses penderita telah mengandung bahan virus yang siap ditularkan. Pada bentuk ini, penyakit polio akan sembuh spontan dan pulih sepenuhnya.
  • Non paralitik polio
    Pada keadaan ini, gejala berjalan lebih serius, bertahan selama 1-2 minggu. Timbul demam, sakit kepala, muntah, dan diare. Pada otot mulai tampak gejala, seperti kekakuan, kete-gangan, dan nyeri otot. Terkadang bentuk ini berjalan lebih serius hingga gejala yang mirip radang selaput otak, seperti timbulnya sensitivitas terhadap cahaya dan kaku leher/kuduk.
  • Paralitik polio
    Bentuk inilah bentuk polio yang sering disebutkan. Sebenarnya persentase terjadinya sangat kecil dibanding seluruh infeksi polio, yakni 0,1-2 persen kasus.

Mengapa terjadi kelumpuhan pada bentuk ini tidak lain karena virus berhasil melewati dinding pembuluh darah usus, untuk berangkat menuju sel-sel saraf di tukang belakang. Di sana, virus menghancurkan suatu sel saraf bernama sel tanduk anterior, yang berfungsi mengontrol pergerakan pada tangan dan kaki. Pada penderita yang tidak memiliki kekebalan (belum divaksin) virus akan menyerang seluruh sel saraf terutama sel saraf motorik (sel yang mengatur pergerakan otot). Sel saraf motorik ini tidak punya kemampuan regenerasi hingga jika terinfeksi sifatnya akan permanen. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan kaki menjadi lemas. Kondisi ini terjadinya cepat (dalam hitungan jam), disebut acute flaccid paralysis (AFP).

Pada keadaan yang sangat parah, batang otak dapat ikut terserang. Di batang otak terdapat saraf motorik yang mengatur berbagai fungsi vital kehidupan manusia, terutama fungsi pernafasan. Jika batang otak terserang, seseorang dapat menibggal karena gagal bernafas.
Dari mulai terinfeksi hingga lumpuh ada beberapa tahap yang terjadi, terbagi dalam 3 stadium:

  1. Masa Inkubasi.
    Masa ini dimulai saat virus sudah masuk ke tubuh namun belum menunjukkan gejala. Pada masa ini virus melakukan pembelahan hingga mampu menginfeksi. Biasanya berlangsung 3-35 hari.
  2. Stadium Akut.
    Fase ini berjalan sejak muncul-nya gejala hingga 2 minggu. Ditandai dengan suhu tubuh meningkat, jarang terjadi lebih dari 10 hari, kadang disertai sakit kepala dan muntah. Kelumpuhan terjadi pada seminggu permulaan sakit. Kelumpuhan bersifat asimetris sehingga menimbulkan deformitas (gangguan bentuk tubuh) yang cenderung menetap bahkan lebih berat. Sebagian besar mengenai kaki. Kelumpuhan berjalan bertahap dan memakan waktu 2 hari hingga 2 bulan.
  3. Stadium subakut
    Dimulai dengan menghi-langnya demam dalam waku 24 jam. Kadang, disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Fase ini cukup panjang, selama 2 minggu hingga 2 bulan. Pada fase ini gejala-gejala berat mulai menghilang.
  4. Konvalesens
    Ini adalah fase dimana gejala telah hilang namun virus belum sepenuhnya hilang. Berlangsung sangat lama, selama 2 bulan sampai 2 tahun. Mulailah terjadi pemulihan kekuatan otot yang sebelumnya melemah, dimana 50-70 persen kekuatan otot pulih dalam waktu 6-9 bulan. Setelah 2 tahun, tidak akan terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.

Bagaimana dengan kecacatan yang timbul. Kaki berbentuk huruf "X" atau "O", yang telah timbul. Bentuk ini tidak hilang, karena terjadi saat masa pertumbuhan, sehingga kecacatan akan menetap dan terjadi gangguan pertumbuhan tulang.

Polio tidak bisa diobati. Jika terkena jenis yang paralitik, sekali terjadi deformitas, maka akan menetap selamanya dan menjadin cacat. Pengobatan yang diberikan hanya untuk meredakan gejala. Kenyataan akan sangat berbeda jika kita sudah diimunisasi. Sekali divaksinasi, tubuh manusia akan menghasilkan antibodi terhadap virus, sebagai proteksi seumur hidup.

Vaksinasi pertama sekali adalah vaksin yang ditemukan Salk, digunakan pada tahun 1955. Vaksin ini menggunakan bahan sel virus yang tidak aktif, dinamakan Inactivated Polio Vaccine (IPV). Dengan penggunaan ini terjadilah penurunan infeksi polio pralitik dari 37 menjadi hanya 0,8 per 100.000 penduduk pada tahun 1961, di Amerika Serikat.

Pada tahun 1961-1962, ditemukan vaksin dari bahan hidup, dan menggantikan peran IPV karena lebih praktis menggunakannya dan menghasilkan kekebalan jangka panjang. Keunggulan lainnya adalah meng-hasilkan imunisasi kontak, dimana orang yang belum terimunisasi, jika kontak dengan anak yang sudah diimunisasi akan menjadi terimunisasi juga. Karena cara memberikannya adalah melalui mulut, vaksin ini dikenal sebagai Oral Polio Vaccine (OPV).

Pada beberapa dekade tera-khir, penggunaan OPV menga-lami hambatan. karena terjadi serokonversi virus di negara berkembang. Hal ini diduga karena vaksin menjadi tidak stabil di udara tropis, juga karena banyaknya malnutrisi dan infeksi yang menyerang anak-anak.

Dengan berbagai pertimbangan, penggunaan virus OPV masih digunakan di berbagai negara berkembang. Namun, penggunaannya harus sangat hati-hati pada anak yang sedang sakit (menderita infeksi) dan pada anak dengan kurang gizi, dan statu kesehatan yang rendah. Selain itu, vaksin tetes mulut ini juga dilarang pada pasien yang alergi terhadap zat vaksin tersebut, wanita hamil, penderita HIV-AIDS, dan pasien dengan kelemahan imunitas.

Imunisasi yang dianjurkan adalah 4 kali. Pertama kali diberikan saat lahir, kemudian pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan terakhir 18 bulan. Pada usia 5 dan 15 tahun, dianjurkan untuk melakukan pengulangan imuni-sasi agar memperkuat imunitas tubuh.

Pemahaman masyarakat yang baik terhadap waktu pelaksanan ini, akan mengahsilkan kesadaran berimunisasi yang diharapkan. Setiap ibu harus acuh untuk mendapatkan imunisasi polio ketika anaknya lahir.

Kemudian melakukan peman-tauan hingga usia 15 tahun untuk melengkapi semua imunisasi.
Pada program eradikasi polio yang dicanangkan, terdapat tiga program utama, yaitu:
  1. Imunisasi pada setiap anak
    Diharapkan setiap anak Indo-nesia telah diimunisasi polio secara lengkap.
  2. Pemantauan terjadinya wabah (Surveilance for Accute Flaccid Paralysis)
    Pada daerah yang tiba-tiba mendapat serangan wabah polio (kelumpuhan), maka anak-anak yang terserang harus diperiksa tinjanya untuk memastikan penyebabnya adalah polio. Setelah diperiksai dan dipastikan, maka berlanjut ke langkah ketiga.
  3. Mopping up
    Maksudnya adalah melakukan imunisasi missal di daerah yang ditemukan penderita polio. Semua anak di daerah tersebut, tanpa memeprhatikan status imuniasai polio yang telah diterimanya, harus diimunisasi ulang.
Kesehatan adalah hak setiap manusia. Untuk mendapatkan hak terkadang kita harus berjuang. Bentuk perjuangan terkini menghadapi polio adalah dengan membawa anak untuk diimunisasi, saat anak sedang sehat, dengan jadwal yang teratur.
Tanpa imunisasi, mungkin sebagian besar anak dapat tumbuh sehat tanpa polio. Namun sekali terinfeksi, sungguh ironis akibatnya. Anak akan menjadi cacat dan menjadi tanggungan malu bagi dirinya seumur hidup.

Sumber dari: Ahmad Handayani, S.Ked
Back To Top