Kumpulan Artikel Kesehatan dan Kecantikan Terbaru 2017

Risiko Kekurangan Vitamin D

Anak-anak yang tidak mendapatkan cukup vitamin D atau kekurangan vitamin Dbiasanya berisiko terkena rakitis, di mana tulangnya tidak cukup mineral (tulang mereka menjadi lemah). Risiko kekurangan vitamin D semakin besar jika mereka tidak suka minum susu, alergi susu, intoleransi laktosa (tubuhnya tidak memproduksi enzim untuk mencerna laktosa sehingga tidak bisa meminum susu hewan), atau vegetarian.

Hal ini berlaku juga untuk anak-anak atau remaja yang memiliki kulit yang gelap sehingga penyerapan sinar matahari tidak bisa optimal (berlaku juga untuk remaja yang hobi memakai sunscreen). Karena ASI tidak mengandung vitamin D dankekurangan vitamin D dalam jumlah yang besar, bayi yang mendapatkan ASI bisa menderita rakitis, bahkan meskipun tinggal di daerah tropis, jika bayi tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Beberapa bentuk rakitis yang jarang merupakan akibat adanya gangguan metabolisme vitamin D. Penyakit ini bersifat diturunkan. Kejang otot (tetani) yang disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium bisa merupakan pertanda awal terjadinya rakitis untuk belajar duduk dan merangkak dan penutupan ubun-ubun (fontanel) mengalami penundaan.
Anak-anak usia 1 — 4 tahun bisa memiliki kelainan lengkung tulang belakang, kaki 0 (bengkok ke dalam), kaki X (bengkok ke luar), dan terlambat berjalan.

Anak-anak yang lebih tua atau remaja akan merasakan nyeri bila berjalan.Tulang panggul yang mendatar pada remaja putri menyebabkan jalan lahir menjadi sempit. Rakitis dan osteomalasia dapat diobati dengan pemberian vitamin D per-oral (ditelan) sebanyak 5 kali dosis harian yang dianjurkan, selama 2 — 3 minggu.

Overdosis
Mengonsumsi vitamin D sebanyak 10 kali dosis harian yang dianjurkan, selama beberapa bulan, bisa menyebabkan keracunan. Hal tersebut mengakibatkan tingginya kadar kalsium dalam darah dan berlanjut pada deposit kalsium dalam jaringan lunak dari tubuh.

Gejala pertama dari keracunan vitamin D adalah hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, yang diikuti rasa haus yang luar biasa, meningkatnya frekuensi berkemih, kelemahan, gelisah, dan tekanan darah tinggi.
Kalsium bisa diendapkan di seluruh tubuh, terutama di ginjal, di mana bisa menyebabkan kerusakan menetap. Fungsi ginjal akan terganggu sehingga protein dibuang dalam air kemih dan kadar urea dalam darah meningkat.
Pengobatan terdiri dari menghentikan pemakaian vitamin D tambahan dan mengikuti diet rendah kalsium untuk mengurangi efek dari tingginya kadar kalsium dalam darah.
Tag : ARTIKEL
Back To Top